HARU BERSATU, AIR MATA MENJADI SAKSI: PERPISAHAN PJ. GEUCHIK PURI PORTUNA MENYENTUH HATI SELURUH WARGA TIMBANG LANGSA
RAJANEWS.Xyz l KOTA LANGSA – Suasana haru yang mendalam menyelimuti Balai Gampong Timbang Langsa pada Selasa (04/08/2026), saat berlangsung acara serah terima jabatan dari Pejabat Sementara Geuchik Ibu Puri Portuna kepada Geuchik Terpilih Bapak Budiyono. Di tengah acara yang seharusnya penuh sukacita peralihan kepemimpinan, momen perpisahan berubah menjadi adegan yang tak sedikit membuat siapa saja yang hadir menahan haru.
Saat giliran Ibu Puri Portuna menyampaikan pesan terakhirnya sebagai pemimpin gampong, suasana seketika hening. Beliau mencoba tersenyum ramah seperti biasa, namun suara perlahan bergetar menahan emosi.
“Selama masa tugas saya di sini, kalian bukan sekadar warga binaan bagi saya. Kalian adalah keluarga saya sendiri. Meski jabatan saya berakhir hari ini, hati dan doa saya tidak akan pernah berpisah dari tanah Timbang Langsa ini,” ujar Ibu Puri dengan suara parau.
Kalimat itu menjadi batas yang tak sanggup lagi dilampaui perasaan. Perlahan, air mata menetes dari mata Ibu Puri. Beliau terhenti sejenak, menyeka wajah dengan tangan yang gemetar, tak kuasa menahan beratnya berpisah dengan orang-orang yang telah ia temani dan bantu selama ini.
Melihat sosok pemimpin yang dikenal tegar, sederhana, dan selalu ada saat warga kesusahan kini ikut larut dalam haru, tak ada satu pun warga yang sanggup membendung perasaannya. Isak tangis mulai terdengar dari sudut ruangan, lalu menyebar memenuhi balai. Ibu-ibu menutup wajah, lansia mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca, dan banyak pemuda yang tak malu mengakui keberatannya melepas kehadiran sosok seperti Ibu Puri.
“Beliau tidak pernah membeda-bedakan kami. Saat kami susah, beliau yang datang duluan. Sekarang beliau pamit, rasanya seperti melepas orang tua sendiri,” ujar salah satu warga dengan suara tercekik tangis.
Acara dihadiri Camat Langsa Baro, Bhabinkamtibmas, Babinsa, Tuha Peut, serta seluruh perangkat gampong. Mereka pun tak luput tersentuh melihat ikatan batin yang begitu kuat antara mantan pemimpin dan warganya.
Di akhir pesannya, Ibu Puri berpesan agar warga tetap bersatu, saling mendukung kepemimpinan Bapak Budiyono, dan menjaga kedamaian yang telah terjalin.
“Air mata yang jatuh hari ini bukan tanda perpisahan yang menyedihkan. Ini adalah bukti bahwa kita telah saling mengisi hati satu sama lain. Saya pergi, tapi kasih sayang saya tetap di sini,” tutup Ibu Puri disambut tepuk tangan yang tercampur isak tangis.
Momen ini menjadi kenangan tak terlupakan: bahwa pemimpin terbaik bukan hanya yang mampu membangun jalan dan jembatan, melainkan yang mampu membangun jembatan kasih sayang di hati setiap orang yang dipimpinnya.
Redaksi













