Tokoh Masyarakat Zulfadli ingin Meluruskan Sejarah: Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar Bukan Pahlawan Indonesia.
RAJANEWS.Xyz | Langsa – Sebuah pandangan berani dari tokoh masyarakat Zulfadli,S.Sos.I.MM selaku pendiri di LSM BLJ, hal itu di karenakan terkait tentang sejarah perjuangan bangsa yang dimana dikemukakan untuk meluruskan pemahaman yang dianggap keliru selama ini. Fokus utamanya membedakan arah perjuangan pahlawan asal Aceh dengan dasar kenegaraan Indonesia yang terbentuk kemudian hari.
Berikut uraian pemikiran tersebut:
Arah Perjuangan yang Berbeda Dasarnya
“Maaf saya mau mencoba meluruskan ilmu sejarah di negeri ini. Ujar Zul selaku pendiri LSM BLJ, Kalau kita mundur 200 tahun ke belakang, yang dikatakan pahlawan Indonesia itu tidak termasuk Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar,” tegasnya.
Alasannya sangat jelas menurut pandangan ini: Mereka hidup dan berjuang dengan satu tujuan tunggal, yaitu memperjuangkan tegaknya Hukum Allah SWT di Tanah Rencong, Serambi Mekkah.
Hal ini dipandang sangat kontras dengan sistem yang dianut oleh negara Indonesia saat ini. “Sementara Indonesia itu memakai sistem dan hukum yang bersumber dari Belanda, dan berdiri di atas dasar demokrasi,” tambahnya.
“Beda Misi, Maka Beda Landasan”
Pernyataan ini menegaskan perbedaan mendasar antara cita-cita perjuangan Aceh tempo dulu dengan bentuk negara yang ada sekarang. Perlawanan Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien murni berlandaskan kedaulatan Islam dan mempertahankan kedaulatan tanah air dari cengkeraman penjajah, bukan dengan semangat membangun konsep negara yang berbeda prinsip.
“Kita lihat kapan Indonesia merdeka dan bagaimana sistemnya. Saya pastikan, seandainya Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar hidup kembali di zaman ini, saya rasa pasti mereka akan menolak. Bahkan mungkin mereka akan menjadi pemberontak yang pertama di Indonesia ini,” ujarnya dengan yakin.
Alasannya sederhana: Karena misinya sudah berbeda. Satu pihak berjuang menegakkan syariat dan hukum Allah secara murni, sedangkan pihak lain berdiri di atas pijakan demokrasi dan tatanan hukum warisan kolonial yang sudah terpisah jauh dari nilai-nilai yang diperjuangkan ulama dan pahlawan Aceh.
“Sejarah Harus Dilihat Sesuai Konteksnya”
Inti dari pernyataan ini mengajak masyarakat tidak menyamakan semua perjuangan dengan label yang sama. Pahlawan Aceh memiliki tujuan suci yang lurus sesuai ajaran agama. Jika dipaksakan masuk ke dalam wadah yang prinsipnya berlainan, maka keaslian sejarah dan semangat perjuangannya akan tergerus.
“Yang satu menginginkan tegaknya hukum Allah, yang satu lagi demokrasi. Jelas tidak sama arahnya,” pungkas Zul di media ini sambil menutup perkataannya.
Redaksi
(Red/ LSM BLJ)












